Tahu Kupat Bukan Kupat Tahu

 

Sepiring tahu kupat. (Foto: Nino Sativara)

"Tahu Kupat sering dianggap sama layaknya Kupat Tahu. Padahal keduanya berbeda ibu"

Matahari baru saja mengintip di ufuk timur saat riuh Pasar Legi, Surakarta mulai memuncak. Di antara deru mesin truk yang tiba membawa sayur mayur dari gunung dan tawar-menawar pedagang, seorang pria dengan raut wajah tenang tampak teliti memilah bahan. Ia adalah Zulkarnaen Iqrom (53), atau yang akrab disapa Pak Iqrom. Baginya pagi hari bukan sekadar awal waktu kerja, melainkan ritual sakral untuk memastikan setiap elemen dalam gerobaknya adalah kualitas terbaik.

Iqrom adalah satu dari sedikit penjaga sisa-sisa otentisitas kuliner Solo. Di tengah serbuan gerai kopi kekinian dan franchise makanan cepat saji yang menjamur di sudut-sudut kota, ia memilih tetap setia pada jalan yang ia tempuh puluhan tahun dengan berjualan Tahu Kupat keliling.

Sejak pukul lima pagi, Iqrom sudah berkutat dengan tumpukan tahu putih yang segar, tauge, dan kubis. Belanja ke pasar adalah tahap krusial. "Kalau tahunya tidak segar atau kurang padat, saat digoreng nanti hancur. Rasanya pun akan beda, ada asamnya," ujar Iqrom sambil menata belanjaan di atas papan panjang di tengah gerobaknya.  

Baginya, Tahu Kupat bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ia adalah simbol ketahanan. Di saat harga bahan pokok seringkali tidak bersahabat, Iqrom enggan mengganti resepnya dengan bahan yang lebih murah. Baginya, kepercayaan pelanggan yang sudah menantinya di gang-gang sempit Kota Solo adalah beban moral yang harus dijaga.

Tahu Kupat Bukan Kupat Tahu

Bagi orang awam, istilah Tahu Kupat dan Kupat Tahu seringkali dianggap sama, hanya dibalik namanya saja. Namun, di tangan Iqrom, perbedaan itu menjadi sangat prinsipil. Ia menjelaskan dengan saksama sembari jemarinya dengan lincah memotong ketupat yang padat.

"Kalau Kupat Tahu yang biasa ada di daerah lain seperti Bandung atau Magelang, biasanya menggunakan bumbu kacang yang kental dan dihaluskan, kadang ada campuran santannya," jelasnya. "Tetapi Tahu Kupat Solo itu beda. Kami tidak pakai bumbu kacang yang diulek halus sampai menutup semua komponen," tegas dia sambil mengaduk bumbu dasar kuah.  

Tahu Kupat buatan Iqrom adalah perpaduan harmonis antara potongan ketupat, tahu goreng yang dipotong dadu, mie kuning, tauge, dan irisan kubis segar. Keistimewaannya terletak pada taburan kacang tanah goreng utuh yang memberikan tekstur crunchy di setiap gigitan. Serta, tentu saja, potongan bakwan atau gendar yang menambah kekayaan tekstur.

Namun, "jiwa" dari Tahu Kupat Pak Iqrom terletak pada cairan berwarna cokelat gelap yang tersimpan dalam wadah kedap suhu di gerobaknya. Inilah kuah khas yang menjadi identitas pembeda. Kuah ini tidak encer seperti kuah soto, melainkan sedikit kental dengan dominasi rasa manis yang legit dari gula jawa pilihan, namun tetap menyisakan jejak rasa gurih dari bawang putih dan rempah rahasia.

Saat kuah itu diguyurkan ke atas tumpukan bahan di piring, aroma harum seketika menguap. Rasa manisnya tidak "nendang" di depan secara kasar, melainkan meresap perlahan ke dalam pori-pori tahu yang masih hangat. Halus dan sopan dinikmati seperti keramah-tamahan warga Solo. Inilah yang membuat pelanggan Iqrom tetap setia. "Banyak yang jualan, tapi kuah punya Pak Iqrom ini punya 'kepribadian'. Manisnya pas, tidak bikin enek," ujar Enik (28) salah satu pelanggan yang mencegat gerobaknya di sudut Jalan Slamet Riyadi.

Bagi kalangan pekerja formal seperti Enik, mengisi perut dengan tahu kupat di waktu jam makan siang bukan cuma soal irit, tetapi rasa dan kelezatan yang selalu hadir. “Kalau gerobaknya Pak Iqrom singgah, saya tidak perlu pikir banyak untuk makan siang. Murah dan selalu numani (istilah bahasa Jawa yang berarti ketagihan),” tukas dia. Sepiring Tahu Kupat Pak Iqrom cukup ditukar dengan uang Rp 15.000 saja, harga tersebut sudah lengkap dengan telur dadar campur tahu sebagai asupan protein.

Kuliner Lokal Menantang Arus Global

Menjadi pelaku UMKM kuliner tradisional di era digital bukanlah perkara mudah. Iqrom mengakui bahwa tantangan terbesarnya bukan hanya kenaikan harga minyak goreng atau kedelai, melainkan perubahan gaya hidup masyarakat. Anak-anak muda sekarang lebih sering memesan makanan lewat aplikasi, yang terkadang membuat pedagang keliling seperti dirinya luput dari pandangan.

Namun, pria asal Wonogiri ini menolak untuk menyerah pada keadaan. Baginya, kesederhanaan adalah kekuatannya. Ia tidak butuh bangunan mewah dengan lampu neon untuk menyajikan rasa yang mewah. Lapak sederhananya yang bergerak dari satu kampung ke kampung lain adalah bukti bahwa tradisi tidak harus statis; ia bergerak, menjemput penikmatnya.

"Saya jualan bukan cuma cari untung, Mas. Ada rasa bangga kalau lihat orang makan sampai kuahnya habis. Itu artinya resep turun-temurun ini masih diterima," katanya dengan senyum tulus yang mengukir garis-garis halus di wajahnya.

Tahu Kupat Pak Iqrom adalah cermin dari ketahanan UMKM di Indonesia. Di balik setiap porsi yang ia sajikan seharga belasan ribu rupiah, terdapat narasi tentang kerja keras, konsistensi, dan dedikasi terhadap warisan rasa. Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam pelestarian budaya kuliner.

Ketika senja mulai turun di Kota Solo, Iqrom biasanya mulai mengarahkan gerobaknya pulang. Gerobaknya mungkin sudah kosong, namun ia membawa pulang harapan bahwa esok hari, langkah kakinya akan kembali menyalakan kompor, pergi ke pasar, dan memastikan bahwa rasa manis yang otentik dari Tahu Kupat Solo tidak akan pernah hilang ditelan zaman.

Di tangan orang-orang seperti Iqrom, kuliner tradisional bukan sekadar komoditas, melainkan identitas yang terus hidup. Selama Iqrom masih berkeliling, selama itu pula Solo tidak akan kehilangan salah satu rasa terbaiknya. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah kota selalu dirindukan bukanlah gedung pencakar langitnya, melainkan rasa-rasa familiar yang dijaga dengan sepenuh hati oleh tangan-tangan tulus seperti tangan Zulkarnaen Iqrom.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama