Konferensi Gerobak Wedangan

 

Wedangan. (Foto: Istimewa)

"Ketika perdebatan isu politik memuncak di layar televisi, masyarakat yang ikut geram hanya bisa ngrasani lewati wedangan dini hari"

Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Solo ketika Narso (36) mulai menata kursi-kursi kayu panjang di sudut Jalan Yosodipuro, Solo tak jauh dari Monumen Pers. Di atas gerobak kayunya yang dipelitur cokelat tua, tiga buah ceret tembaga atau ceret dhompo sudah bertengger gagah di atas tungku arang yang membara. Bagi Narso, kepulan asap tipis dari arang kayu itu bukan sekadar penanda dimulainya pekerjaan, melainkan napas kehidupan yang telah ia jalani selama dua dekade.

Narso adalah satu dari ribuan bakul wedangan di Solo atau yang secara historis lebih akrab disebut HIK (Hidangan Istimewa Kampung). Saban hari, dari jam lima sore hingga lonceng tengah malam berdentang, ia menjadi "presiden" di republik kecilnya sendiri. Di bawah temaram lampu bohlam kuning yang bergoyang ditiup angin malam, Narso melayani semua orang dengan derajat yang sama: mulai dari tukang becak yang mencari sandaran punggung, mahasiswa yang berdiskusi tentang IPK, hingga pejabat yang melepas dasinya demi segelas Jahe Jeruk.

Dari Pikulan Ke Gerobak

Eksistensi wedangan di Solo bukanlah fenomena baru. Secara historis, HIK bermula dari tradisi masyarakat Cawas, Klaten, yang merantau ke Solo pada masa kolonial. Dahulu, para pedagang tidak menggunakan gerobak, melainkan memikul dagangan mereka masuk ke gang-gang kampung. Itulah mengapa istilah HIK muncul. Sebuah ironi manis tentang makanan rakyat yang disebut "istimewa". "Kata orang dulu bakul HIK atau wedangan jualan pakai pikulan, berkeliling sambil teriak pelan. Sekarang, kami menetap, tapi rohnya tetap makanan murah untuk perut yang lelah," ujar Narso sambil tangkas meracik teh, saat ditemui pada Kamis (23/4/2026).

Berbeda dengan Angkringan Jogja, Wedangan Solo memiliki karakter visual dan rasa yang khas. Jika Angkringan Jogja identik dengan Sego Kucing yang dibungkus kecil-kecil dengan lauk minimalis, Wedangan Solo menawarkan variasi yang lebih mewah meski tetap merakyat. Di gerobak Narso, kita akan menemukan Sego Bandeng, Sego Ati, dan Sego Oseng, hingga beragam baceman seperti tahu, tempe, kepala ayam, dan yang paling ikonik ialah Apollo. Jadah bakar yang diberi coklat, lumer saat disantap.

Wedangan sendiri adalah istilah yang akrab di telinga warga Solo. Kata tersebut bersumber dari kosakata Bahasa Jawa “wedang” yang artinya minuman. Hal itu sangat berhubungan dengan kebiasaan masyarakat yang memiliki budaya minum teh sembari berkumpul dan bersosialisasi. Di Jogja, Nasgithel (Panas, Legi, Kenthel) adalah standar, namun di Solo, teh adalah seni "oplosan". Narso memiliki racikan rahasia dari tiga merek teh berbeda untuk menciptakan cita rasa Sepat, Manteb, dan Wangi. "Wedangan itu identiknya teh. Kalau tehnya tidak mantap, pelanggan tidak akan balik lagi," tambahnya sembari menuangkan teh dari ceret yang airnya terus mendidih di atas arang. Sedangkan istilah Angkringan, yang lebih familiar di Jogja berasal dari kata “angkring” dalam Bahasa Jawa yang bermakna duduk santai.

Budaya ‘Tenguk’ dan Diplomasi Rakyat

Di wedangan Narso, suasana cair begitu cepat tercipta. Di sini tidak ada sekat kelas sosial. Di atas kursi kayu panjang, seorang kuli bangunan bisa berdebat dengan seorang pengusaha mengenai hasil pertandingan sepak bola atau kebijakan pemerintah terbaru. Inilah yang disebut sebagai "Diplomasi Rakyat".

Wedangan menjadi ruang publik paling demokratis di Solo. Mulai dari basa-basi perkenalan, bicara isu sosial, politik, hingga lakon wayang dan cerita kethoprak Balekambang yang tayang mingguan. Wedangan sudah seperti ruang diskusi yang ramah bagi semua kalangan. Entah mengapa, terkadang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa tertawa terbahak-bahak bersama di wedangan. "Di sini, orang tidak perlu jaim (jaga image). Pakai sarung boleh, pakai jas juga silakan. Semua orang sama di depan jahe gepruk saya," kata Narso dengan tawa renyah.

Seringkali, masalah-masalah berat yang tidak selesai di kantor, justru menemukan jalan keluar di sini melalui obrolan santai yang ditemani seporsi sate apus dan jahe hangat. Narso seringkali berperan sebagai pendengar setia. Ia menyaksikan ribuan cerita: dari tawa pemuda yang sedang jatuh cinta, hingga keluh kesah bapak-bapak yang bingung membayar cicilan motor. “Ada juga dulu langganan saya, pegawai muda kalau pulang sama pacarnya kesini. Lalu lama sekali nggak muncul, tiba-tiba nongol sudah bawa anak dua,” kenang Narso sambil tersenyum.

Bertahan dengan Elegan

Menjelang tengah malam, ketika udara Solo mulai menusuk tulang, kepulan uap dari ceret Narso justru semakin intens. Meski kini kafe-kafe modern menjamur di setiap sudut kota dengan fasilitas WiFi dan AC, wedangan Solo tetap berdiri kokoh. Rahasianya bukan pada teknologi, melainkan pada kehangatan manusiawi yang ditawarkannya.

Bagi Narso, menjadi bakul wedangan bukan sekadar urusan mencari untung. Ada kebanggaan tersendiri saat melihat pelanggannya pulang dengan perut kenyang dan hati yang lebih ringan. Ia adalah penjaga tradisi di tengah modernitas Solo yang kian melesat. Meski hegemoni kafe modern dengan menu-menu “impor” sedang menjamur, wedangan bertahan menjadi kafe tradisional yang tak perlu memisahkan segmen pasarnya.

Saat waktu menunjukkan pukul 24.00, Narso mulai membersihkan meja. Bara arang di tungkunya perlahan meredup, namun ia tahu, besok sore ia akan kembali meniup api itu. Selama masyarakat masih butuh tempat untuk berkeluh kesah dan mencari kehangatan dalam kesederhanaan, Narso dan gerobak wedangannya akan selalu ada, menjaga denyut nadi malam di Kota Bengawan.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama