![]() |
| Rica mentok Abah Firman Sumber, Banjarsari. (Foto: I.K Nino Sativara) |
"Rica mentok Abah Firman lahir dari keramahan dan senyuman sang koki. Rasa lezat dan gurih khas-nya muncul dari sentuhan tangan-tangan penuh makna yang seporsinya tak perlu dibayar dengan dollar"
Matahari perlahan menghangat, menurunkan panasnya kepada bumi ketika warung dipinggir jalan tak jauh dari KPU Solo itu bergeliat. Dari kejauhan, tampak sepasang suami istri yang tengah sibuk di hadapan meja kerjanya. Menyiapkan sepiring hidangan istimewa kepada setiap perut yang lapar akan kenikmatan rica mentok dan olahan segar lainnya.
Warung Spesial Rica Abah Firman yang sudah bertahun lamanya eksis di Sumber, Banjarsari ini rupanya menyita kedua mata siapa saja yang tengah lewat. Di tempat yang sederhana itu, menu lengkap tersedia. Aroma goreng rica yang kuat, segera mendorong pembeli untuk memesan sepiring rica mentok lengkap dengan nasi. Tidak lupa es teh tawar yang sedap, keduanya masuk daftar tugas Abah Firman dan sang istri. Tak lama suara kompor menyemburkan pijarnya.
Sambil membawa senyuman hangat Abah Firman mendekat. "Monggo mas, dinikmati. Kalau ada rasa yang kurang jangan sungkan dibicarakan," ujarnya menyambut hangat. Sang istri ikut tersenyum, melihat pembeli pada lahap menghabiskan makanan karyanya.
Sepiring rica mentok sudah lengkap dengan kuah khas dan nasi cukup ditukar dengan uang Rp 27 ribu. Itu pun termasuk es teh tawar yang sedap ciri khas racikan teh Solo. Meski lidah sedang mengidam rica mentok, warung Abah Firman ini menyediakan seabreg menu lain yang bisa dicicipi.
Sebut saja rica ayam, rica mentok, rica daging kambing, rica iga sapi, rica tengkleng, hingga nasi goreng kambing dan mie goreng kambing. Semuanya sudah termasuk nasi dan es teh dengan harga termurah di angka Rp 15 ribu sampai Rp 30 ribu. Harga yang sangat ramah di tengah kondisi ekonomi republik lagi sakit ini. Plus, Anda tidak perlu membayarnya dengan dollar, sebab Abah Firman orang desa. Ya bukan?.
Sepiring rica mentok yang tersaji kemudian bertemu sesuap demi sesuap menuju lidah yang menunggu. Rasa daging yang empuk dan wangi menyatu bersalaman di dalam mulut. Belum lagi setiap tetes kuah yang ikut menyelemutinya seakan menambah kenikmatan mencapai nirwana.
Tak perlu tergesa-gesa mencicipinya, sebab Abah Firman akan berkisah seribu satu cerita yang makin menghangatkan suasana. Bahkan sepiring mungkin kurang untuk tertawa dan tersenyum lepas bersamanya. Abah Firman yang dahulunya seorang teknisi alat-alat elektronik itu kemudian menuturkan alasannya berjualan.
"Kalau dulu kerja di teknisi eletronik seperti servis mesin cuci, kipas angin, sekarang saya berusaha di sektor kuliner. Alhamdullilah rejekinya ada dan diberi kemudahan," ujar dia. Pembicaraan yang asyik semakin berlanjut. Kedai yang tadinya hampir tutup karena kedatangan pembeli itu justru berubah menjadi panggung siniar yang berbobot.
"Saat industri lain mulai layoff pegawai dan kesulitan karena kondisi ekonomi makro, sektor kuliner akan tetap hidup karena perut yang lapar akan membayar berapapun demi kelangsungan hidup," tandas Abah Firman sambil tersenyum lepas.
Di tengah kondisi ekonomi negara yang kian hari memprihatinkan, optimisme Abah Firman mendorong saya untuk semakin bersemangat. Walau rejeki bisa tiba dalam wujud apa saja, rasanya berusaha juga harus tetap seirama. "Negara boleh hancur, tapi mentok-ku harus matang dan tetap mengenyangkan!," ujar dia disambut tawa bahak dari pembeli.
Ketika matahari makin mendekati terbenamnya, segalanya undur diri. Bersyukur atas rejeki dan kesederhanaan yang lahir dari kerahaman. Kisah dan cerita bersama Abah Firman berakhir hari itu, namun rasa lezat sepiring rica buatannya bersama istri akan mendorong siapapun untuk kembali.
