![]() |
| Cabuk Rambak Yu Temu. (Foto: Nino Sativara) |
"Kelezatan saus wijen berpadu ketupat selalu mempertemukan lidah pada kenangan lampau yang tak pernah bisa dibungkam, bahkan oleh rezim sekalipun."
Angin sejuk berhembus di antara pohon rindang sekitar komplek Stadion Manahan Solo. Ruas Jalan Menteri Supeno waktu itu masih berjejer rapi para pedagang kaki lima.
Setiap pagi, ratusan pedagang menggelar lapak semi permanen. Ada yang lesehan, kursi dingklik sederhana, hingga tenda lipat lengkap dengan meja kursinya.
Shelter UMKM hasil proyek belasan tahun lalu juga masih jadi tempat ekonomi berputar. Soto, bubur, pecel, nasi liwet, sebut saja setiap makanan lokal pasti akan mudah ditemui di sini.
Di antara banyaknya para pejuang kehidupan yang mencari nafkah lewat menjual makanan itu, berjejal sebuah nama dagang terkenal dengan menu andalan cabuk rambak.
Tempatnya terlewat sederhana: tikar rajut plastik yang sudah brodol, ditemani wakul rotan berisi racikan sedap yang telah menemani bertahun-tahun perjuangan hidup Yu Temu.
Kendaraan roda dua warisan kakek yang ditumpangi muda mudi terparkir tak jauh dari tempatnya. Pagi itu, dua insan yang mencoba merajut cinta ikut duduk bersila sembari memesan menu yang sama.
Obrolan hangat menyapa singkat, sebelum masuknya cabuk rambak Yu Temu dengan saus wijen yang lezat. Suara crunchy dari karak segera bersautan. Rasa sedap yang kuat bercampur aduk di dalam mulut, memaksa lidah mengirim sinyal puas kepada pengendali kepala.
Selembar uang berwarna ungu menyapa tangan Yu Temu. Sepincuk cabuk rambak cuma perlu ditebus Rp 5 ribu. Sang pemuda beranjak pergi menuju motornya, disusul pemudi yang tersenyum tipis menikmati sederhananya cinta. Pulang membawa pengalaman tak terlupa di benak masing-masing kepala.
Sayang segala narasi itu kini tinggal cerita. Plus, warung Yu Temu kini berpindah ke sisi barat dari Komplek Stadion Manahan yang lebih tertata. Otomatis, kenangan romansa masa muda kedua insan tadi telah sirna.
Rupanya kelezatan saus wijen dan kriuk dari karak yang dimakan oleh muda-mudi bak fine dining itu telah berlalu beberapa tahun lamanya. Sang pemuda, yang kini duduk termenung juga tak dapat membungkam masa lalu indahnya. Bahkan rezim subversif-pun nihil membinasakan.
Meski demikian, kenikmatan dari cabuk rambak Yu Temu yang pernah dimakan bertahun lalu itu masih konsisten. Kurs mata uang republik yang lagi payah belakangan memang membuat harga cabuk rambak kini Rp 7 ribu. Naik sedikit setelah beberapa tahun berlalu.
Yu Temu hanya tertawa saat pemuda itu kembali tanpa sang pujaan hati. "Wes ora bacut ya le," ujar dia. "Ya seng bacut mung tetep cabuk rambakmu Yu!," balas lantang sang pemuda.
Akhirnya sarapan pagi itu tak lagi dingin. Pecah tawa keduanya memastikan kuliner tradisional ini lebih dari sekedar pengisi sistem pencernaan. Selain karena harganya yang murah, porsinya yang konsisten, dan kenangan di dalamnya, Cabuk Rambak Yu Temu selalu jadi alasan untuk pulang ke kota bengawan.
