Egalitarianisme Semangkuk Soto dan Kare Mbak Wahyu

 

Kare sedap dari Warung ZAS Selatan Lokananta Bloc. (Foto: Nino Sativara)

"Menu soto dan kare selalu masuk dalam tier list setiap warung penjualnya. Tapi bestie ini punya rasa lezat yang unik di selatan Lokananta."

Bunyi mangkuk beradu terdengar ramai dari dapur Mbak Wahyu tepat di pinggir gang sebelah selatan rumah rekaman Lokananta, Solo. Ketika para pemburu kuliner tiba menggeruduk, bau kepulan asap yang mengarah ke pintu menyambut. 

Aroma segar menggugah selera, meningkatkan libido para pemburu yang tak sabar melahap menahan laparnya. Tak lama, semangkuk soto daging tersaji di hadapan. 

Terlihat tauge, potongan daging yang merekah dan seledri kecil-kecil bersama bawang goreng berenang ria di dalamnya. Uap panas dari kaldu kuah soto masih mengepul, memberi jeda waktu penikmatnya untuk melihat mahakarya dari Mbak Wahyu yang dihargai sebesar Rp 10 ribu itu. 

Pemburu yang lain enggan mengikuti kawan-kawannya. Ia memilih sahabat dekat soto, yang tak lain tak bukan ialah kare. Berbeda dengan bestie-nya, kare lebih cerah dengan kuah kuning dan suwiran daging ayam di atasnya. Tak lupa potongan kentang goreng tipis memayungi nasi, tauge, dan sedikit kubis di dalam semangkuk kare tersebut. 

Kedua menu ini hampir selalu ada di warung-warung makan kota maupun pedesaan. Setiap warung punya ciri khasnya sendiri. Tidak luput juga warung milik Mbak Wahyu. Wanita yang sudah berjualan 10 tahun lebih di dekat rumah rekaman tua milik republik itu selalu memikat pelanggan dengan kelezatan rasa soto dan karenya. 

"Si Bening" alias soto, dikenal karena kelezatan kuahnya yang segar dan kuat akan rempah. Aroma soto kampungnya yang kuat, apalagi ketika disajikan saat mongah-mongah (panas) tentu semakin menarik para pembeli. 

Sedangkan "Si Kuning" alias kare dengan ciri khas kuah manis gurih selalu membuat pelanggan ketagihan karena rasanya. Keduanya selalu disajikan dalam dua porsi. Porsi kecil dengan nasi yang versi irit dibanderol dengan harga Rp 8 ribu, dan porsi besar (yang sebenarnya adalah porsi standart warung ini) ditebus dengan harga Rp 10 ribu.

Selain berjualan soto dan kare, sebenarnya Mbak Wahyu juga menyediakan masakan Jawa lain seperti sayur terong, jangan bening, lodeh, hingga sop ayam. Namun para pelanggan selalu terkesima dengan "Si Bening" dan "Si Kuning".

"Ya bersyukur, alhamdulilah laku. Soto dan kare jadi favorit, jadi lumayan agak banyak stok-nya," ujar dia. 

Warung Mbak Wahyu buka sejak pukul 05.00 pagi hingga 14.00 siang. "Setelah subuhan biasanya sudah siap-siap, lalu buka. Kalau siang ya setelah makan siang lalu tutup," tandas Wahyu. 

Layaknya kantor samsat, warung ini hanya buka Senin hingga Sabtu, dan libur pada hari Minggu. Sistem 6 hari kerja ini memastikan Mbak Wahyu dan keluarganya ternafkahi selama lebih dari 10 tahun. 

Selain itu, jam kerja yang efisien ini membuat dapur tidak memasak overbudget dan menyisakan makanan. Semua diperhitungkan matang agar tepat sasaran. 

Tak perlu ompreng, tak perlu ahli gizi, dan jauh dari kontroversi. Warung Mbak Wahyu terbukti jadi langganan segala kalangan: bule asing hingga pribumi, perantau dan domisili, semua berhak wareg di sini. Semangat egalitarianisme sungguh tertuang dalam warung semi permanen berbahan seng ini. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama