![]() |
| Es Kapal Pak Topo. (Foto: Nino Sativara) |
"Nahkoda hebat tidak lahir dari laut yang tenang. Tapi tidak buat yang satu ini."
Lambung kapal berwarna biru menembus keramaian Jalan Slamet Riyadi tak lama setelah sang surya berkuasa. Sepasang roda menggelinding menanggung beban harapan hidup nakhodanya, mengarungi luasnya jalanan Solo.
Menjemput rejeki dari para pecinta minuman legendaris, memastikan perut nahkoda dan keluarganya tetap kenyang hingga dunia berakhir nanti. Pak Topo, yang lebih suka dipanggil Mister Topo, membawa "kapal" fregat kecil miliknya dari Punggawan menuju pelabuhan sandar di dekat Museum Keris.
Di dalam kapal itu, satu gentong minuman segar mengandung santan berwarna putih cerah menanti untuk disajikan bersama teman-temannya. Tak lupa bungkusan daun pisang kecil yang dilipat bertumpuk di atas geladak kapalnya. Bau menyengat muncul menyeruak jika lubang pernafasan berdiri dekat tape yang terbungkus daun pisang itu.
Tak lupa dalam toples bekas snack bakdhan, terkumpul cairan pekat menggoda lidah. Asal muasal rasa manis dari kelezatan Es Kapal legendaris.
"Saya mulai jalan jam 08.00 pagi. Biasanya sudah pulang jam 15.00. Alhamdulillah tetap laku dan sering habis," cerita Mister Topo sambil menata kursi untuk para tamu yang siap melahap habis Es Kapal racikannya saat ditemui pada Senin, 13 April lalu.
Tangan berurat dan tubuh yang masih tegap, mengisyaratkan jam terbang Mister Topo yang sudah bergelut sebagai nahkoda Es Kapal selama 13 tahun.
Melalui dia dan sejumlah kecil nahkoda lain yang masih berjualan di Solo, minuman legendaris yang naik daun di era 80-an itu, tetap lestari hingga kini.
"Sehari bisa sampai Rp 1 juta kalau rame. Kalau lagi sepi ya Rp 300 sampai Rp 500 ribuan lah omzetnya," ujar pria asal Tawangmangu itu.
![]() |
| Es Kapal buatan Mr.Topo. (Foto: Nino Sativara) |
Satu gelas Es Kapal komplit milik Mr.Topo mengandung es serut yang dicampur dengan santan. Dibaluri campuran coklat dan gula jawa, tak lupa dengan topping tape ketan satu sendok di atasnya. Tak lupa roti tawar sebagai teman makan.
Semua itu bisa dinikmati dengan harga Rp 7 ribu saja. Jika tanpa tape, Rp 6 ribu, dan kalau hanya membeli es serut santannya alias original polosan cukup ditebus Rp 5 ribu saja.
Menikmatinya di siang bolong yang panas terbukti mendinginkan suasana. Es Kapal Mr.Topo yang kental namun tetap mengenyangkan dengan cita rasa manis khas lidah orang Jawa Mataraman, tidak pernah bisa terlupa oleh banyak pelanggan.
Sudiro (34), yang tengah pulang kampung itu mengungkapkan kerinduannya setelah 5 tahun tak sempat mencicipi Es Kapal. "Dulu kalau sekolah tiap pulang pasti beli es kapal. Rantau lama sekali, baru bisa pulang menikmati lagi," tukas pegawai republik yang berdinas di luar Jawa itu.
Dua sejoli yang kebetulan sedang memadu kasih di dekat "kapal" Mister Topo itu juga tak kelewat kena wawancara. Adi (24) dan Yunita (23), keduanya memang gemar meminum es kapal besutan Mister Topo ketika jadwal kencan tiba. "Tempatnya teduh, walau di pinggir jalan. Suka ngobrol lama di sini. Pak Topo-nya juga ramah," kata Yunita.
Ketika sang surya perlahan menghangat menuju lengsernya, Mister Topo berkemas. Kursi-kursi dan tikar yang berserakan di sekitar "kapal" miliknya sekalian diangkut. Tepat setelah adzan Ashar berkumandang, "kapal" Mister Topo mulai berlayar menuju galangan asalnya. Menutup satu hari perjuangan mencari nafkah, mengumpulkan rejeki dari setiap gelas yang penuh kisah.

