Dwifungsi Timlo Pak Harto

 

Timlo Pak Harto Margoyudan. (Foto: Nino Sativara

"Piye penak timloku to?"

Saat melewati daerah Margoyudan, kira-kira sebelah selatan tak jauh dari SMAN 2, warung timlo dengan spanduk merah merona tampak mencuri pandangan. Perut yang sudah berdemonstrasi menggugat otak untuk mengirim asupan memaksa kedua tangan untuk mengarahkan laju kendaraan menepi. 

Segera seorang laki-laki tua yang masih tegap berdiri menyambut dengan aroma kebul asap klobotnya. "Monggo den mas, badhe tumbas napa?," ujar dia. Adalah Suharto (71), pria yang sudah sejak pensiun dari dinas militer ini menggeluti usaha kuliner masakan tradisional sup khas Solo, timlo. 

Tidak lama setelah pesanan masuk, semangkuk timlo komplit mulai diraciknya. Potongan dadar gulung, ati, jamur, bihun, suwiran ayam, dan telur coklat segera apel di dalam mangkuk. Aroma rempah yang menusuk segera keluar dari atas gentong kwali yang mengepulkan uap. Sedikit demi sedikit kuah timlo di tuang ke dalam mangkuk. 

Langkah perlahan membawa sepiring nasi dan timlo menuju ke meja pelanggan. Tidak lupa sambal kecap yang menjadi ciri khas ikut menyusul di hadapan. Irisan jeruk nipis menetes ke atas mangkuk timlo, bersiap menyegarkan lidah dengan rasa gurih dan asin yang sedap. 

Kenikmatan timlo Pak Harto tidak berhenti sampai di situ. Potongan dadar gulung yang melimpah membuat pelanggan terpaksa memesan sepiring nasi tambahan. Seakan rasa lezat dari kuahnya tidak mau berhenti menerjang. 

Pak Harto cuma tersenyum ramah, tampak senang melihat usahanya dinikmati rakyat. Setibanya piring nasi yang baru, kuah kaldu yang masih mengepulkan uap itu kembali dihajar menuju mulut para penikmat. Sosis basah Solo yang duduk manis di bawah tudung saji tiba-tiba terbang melewati mangkuk. Terlahap habis bersamaan. 

Timlo yang gurih dan enak ini rupanya bukan cuma sekedar mengisi perut. Ia adalah kehidupan yang dirawat oleh Pak Harto. Sebab selain mengenyangkan, timlo racikannya berfungsi sebagai pelipur kenangan siapapun yang sedang pulang. 

Percis seperti keterngan Affandi Munawar (45). Wiraswasta asli Solo yang sudah belasan tahun menetap di Bali itu mengenang masa kecilnya lewat kenikmatan semangkuk timlo Pak Harto. 

"Waduh ini mas, nggak akan ada yang bisa menggantikan. Waktu saya SD, almarhum bapak sering ngajak makan siang timlo. Jadi pengen nangis sekarang nggak bisa nraktir blio," katanya sambil mengunyah. 

"Ya itu. Saya pengennya orang datang ke sini bukan cuman makan kenyang pulang. Tapi ada kenangan, cerita lalu yang lestari lewat makanan," ujar Pak Harto menyela. 

Es teh tawar dengan racikan oplos rahasia menutup nikmatnya dwifungsi timlo Pak Harto. Timlo yang tak hanya kenyang dan enak, tetapi sekaligus obat kangen bagi mereka yang rindu kota bengawan. 

Sepiring kelezatan itu semua cuma perlu ditebus dengan uang Rp 25 ribu, sudah termasuk minuman. Dari Senin hingga Sabtu, Pak Harto berdinas sejak jam 07.00 hingga 15.00. Khusus hari Minggu ia menyerahkan 'komando' warung ke anak sulungnya dan buka sedikit lebih siang pada pukul 10.00 hingga 18.00. 

Perut yang hampir anarkis karena kelaparan, kini sudah kondusif. Rasa lapar yang menggebu, kini telah mereda. Pertanda waktu berkarya kembali tiba, membawa cerita dari Timlo Pak Harto di suatu sudut Margoyudan.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama