![]() |
| Semangkuk soto bening khas Soto Bu Parmi, Pasar Legi, Solo. (IK Nino Sativara) |
"Menikmati soto bening yang penuh rempah dan cita rasa khas dengan sistem antrian layaknya pasien BPJS"
Kayuhan Pak Suyudi berhenti tanpa aba-aba di sebelah barat Taman Banjarsari Solo. Sambil tersenyum ia bertutur jika perjalanan dengan ongkos Rp 50 ribu cuma bisa berhenti sampai di sini.
Tanpa berdebat dan bantahan, selembar uang berwarna biru segera ditangkap Pak Suyudi. "Ngapunten, maaf, kalau dari Purwosari ya cuman bisa sampai sini mas," ujar dia halus.
Perjalanan kemudian berlanjut dengan kedua kaki. Tak jauh dari tempat pemberhentian, sebuah pagar sempit di sudut jalan tampak mengasap dan mengeluarkan bau rempah.
Perut yang sedang kosong seakan membawa kaki bergerak tanpa perintah. "Soto Ayam Bu Parmi" begitu judul warung ini di depan pagar. Saat memasukinya, sejumlah orang terlihat mengantri untuk mengambil nomor.
"Nomor 34 mana ini? Soto dua, es teh tiga ya?!," teriak ibu-ibu pramusaji.
Antrian yang Unik
Para pengunjung harus mengambil nomor antrian mereka sendiri di sini. Tidak ada opsi untuk memesan secara by pass langsung ke dapur, semua patuh dan taat mengambil nomor antrian lalu menunggu hingga dipanggil.
Setelah nomor disebutkan, barulah tiba sang pramusaji dengan kalimat khas-nya. "Nomor 39, pesan apa saja?," tutur dia.
Pembeli nomor 39 itu segera menyebutkan pesanannya, dan tanpa perlu lama mangkok-mangkok berisi soto bening itu terbang menuju meja pemesan.
Cara unik ini hanya ada di Soto Bu Parmi yang terletak di belakang Pasar Legi, Solo tepatnya di Jalan Sabang Nomor 10.
Soto bening dengan mangkuk kecil berisi suwiran ayam, tauge, dan kawan-kawan dipadukan dengan siraman kuah bening kaya rempah yang masih panas hanya perlu ditebus dengan harga Rp 6 ribu saja.
Tak lupa pernak-pernik seperti gorengan, sate telur, sate ayam, dan berbagai lauk lain juga tersedia di sini.
Sarapan Jadi 'Prime Time'
Warung soto ini cukup ramai pada jam sarapan. Pukul 07.00 hingga 10.00 pagi, antrian bisa mengular dan nomor antrian kadang mencapai seratusan.
"Buka jam 06.30 sampai 15.00 setiap hari, khusus hari Jumat libur. tapi memang yang ramai di waktu pagi saja. Kalau siang sudah agak longgar," ujar Tutik (bukan nama sebenarnya), pengelola warung.
Andi Waluya, wisatawan asal Bandung turut membeberkan pengalamannya mencicipi salah satu soto hidden gem ini.
"Rasanya unik, rempahnya kuat dan kuahnya bening. Jarang sekali saya nemu begini di Bandung. Harganya juga murah meriah," tutur dia.
Walau bukan kali pertama berwisata di Solo, Andi mengaku baru kali ini menemukan rasa soto khas Solo dengan harga yang murah dan pilihan lauk yang beragam.
"Biasanya cuma tempe apa sate-satean kan, nah di sini itu ada sosis solo yang basah. Itu juga enak, dagingnya lembut banget," terangnya.
Racikan Teh yang Sedap
Selain soto bening yang jadi primadona, teh racikan Soto Bu Parmi juga disukai para pelanggan.
Solo memang dikenal sebagai surganya pecinta teh. Hasil racikan dari 'oplosan' teh berbagai merk menjadikan cita rasa teh khas Solo yang unik dan kuat.
"Teh-nya tidak kalah sedap, racikan Teh Kepala Djenggot dan Gardoe," pungkas Nila Septianawati salah seorang pembeli.
