![]() |
| Papan denah Kampung Kauman, Solo. (Foto: I.K Nino Sativara) |
"Saudagar kaya itu tidak tinggal di pemukiman elit nan eksklusif. Sebaliknya, Kauman hadir membumi. Sebab begitulah produsen harus dekat dengan pasarnya"
Kauman berarti tempat tinggal para "kaum". Dulunya tempat ini bermula dari seorang abdi dalem keraton yang mengurusi urusan agama dan masjid. Dia adalah Kyai Mohammad Thohar Hadiningrat yang tinggal di daerah tersebut. Oleh istana kemudian menjuluki daerah itu sebagai pe-Kauman, tempat tinggal para penghulu dan ulama.
Selain sebagai tempat tinggal para abdi dalem pengurus masjid, tempat ini juga menjadi domisili para pembatik keraton. Tercatat banyak motif kain batik lahir dari tanah ini. Sebut saja Parang Kusumo, Kawung, dan Sidomukti.
Bersepeda mengitari kampung ini rasanya seperti kembali ke lorong waktu silam. Jalan Kampung Kauman dibuka dari sebelah selatan Jalan Slamet Riyadi, tak jauh sebelum Gladag.Gang sempit yang penuh warna-warni di kiri kanan jalan mewarnai sepanjang kayuhan.
Toko-toko dan butik kini menjejal di antara rumah-rumah lama bergaya kolonial. Menandakan transformasi dan evolusi Kauman menuju masa depan yang pelan namun penuh kepastian. Banyak display-display kain batik bertebaran di setiap sudut. Mulai dari batik cap hingga batik tulis.
Ramai anak-anak menyambut sepeda saya seakan turis dari negeri manca. Rasanya ikut senang, Kampung Kauman jadi destinasi wisata pilihan para pelancong. Saya pun ikut-ikutan berlagak seperti mereka.
"Mas, mampir omahku, ibuk sadean kain sae!," teriak bocil sambil berlari memegangi rak panier saya. Saya hanya bergumam membalas hal itu, "Kauman ora ono seng ora wangun le".
Harapan anak ini rupanya tinggi, langkah kedua kakinya tidak lama terhenti setelah saya memilih untuk menepi. "Ayo, cubo delokno batik e!," tantang saya ke anak itu. Wajah kucal dan mrengut-nya lantas sirna berganti senyum utuh. Berlari menuju arah rumah dan tak lama mengeluarkan bentangan kain seukuran jarik dengan motif kawung.
"Seket ewu (Rp 50 ribu) wae mas!," teriak dia sambil memamerkan mata berbinar penuh harap. Saya ketawa tipis sambil mengambil dompet dan memberinya selembar kertas biru. Wajahnya girang bukan main.
Kayuhan sepeda berlanjut ke sudut foto yang ramai pengunjung. Meski pagi itu mendung tak usai sejak malam, matahari yang masih kalah dengan awan hitam tak menyurutkan nyali saya untuk berfoto di spot ramai.
"Mas-nya mau nginap dimana, monggo ke rumah saya!," tawar seorang bapak-bapak ke saya. Lagi-lagi penyamaran saya sukses. Wajah saya sepertinya cocok sekali jadi turis di negeri sendiri. Hahaha, padahal kalau mau ditelisik lebih lanjut, manusia seperempat abad ini adalah warga negara bagian Colomadu yang bahkan lahir dan besar di tanah Surakarta!.
Ujung gang Kampung Kauman menembus pertokoan Coyudan. Air dari langit menyapu tipis bersamaan dengan angin dari barat Singosaren meraupi wajah dingin yang sejak pagi belum ketemu kopi ini. Kisah di Kauman usai perlahan dalam tangkapan.
