Baluwarti: Menelisik Cerita di Balik Tembok Prahara

Sudut Baluwarti. (Foto: I.K Nino Sativara


"Baluwarti bisa saja memberontak, tapi kampung ini bukan sembarang kampung. Mata telinganya memperhatikan walau tanpa berkoar"


Barangkali sebagai warga Solo, saya adalah salah satu yang sudah jenuh dengan pertikaian dari kerajaan berlatar biru muda ini. Sejak konflik tahta PB XIII hingga kini penerusnya masih "melestarikan" ontran-ontran drama istana yang selalu dapat sorotan media. 

Di jaman yang semakin maju ini rupanya budaya lama istana tetap saja melekat: perebutan kekuasaan. Saya tidak bisa membayangkan jika ini terjadi di masa ketika manusia belum menerima hukum modern, tentu geger semacam ini bisa menjadi pertempuran berdarah. 

Sejarah mencatat banyak soal hal tersebut, tak terkecuali Baluwarti. Ini adalah perkampungan "ring satu" yang sejak dahulu menjadi saksi dari berbagai adu kekuasaan dan tahta di keraton. Berangkat dari pagi yang mendung, sepeda mengayuh diantara gedung-gedung menuju Kori Kamandungan dan memutar di sekitaran tembok luar. 

Baluwarti secara terminologi diambil dari Bahasa Spanyol "baluwarte" yang jika diterjemahkan berarti benteng. Seperti tercantum dalam buku berjudul Toponim Surakarta: Keragaman Budaya dalam Penamaan Ruang Kota, Baluwarti adalah pemukiman di luar istana, terpisah-pisah ke dalam sejumlah kampung kecil yang dahulunya merupakan pemukiman abdi dalem sesuai peran dan job desc mereka masing-masing.

Wirengan, berada di dekat pintu sebelah barat dan timur ke selatan. Wirengan merupakan pemukiman tempat para abdi dalem yang berhubungan dengan kesenian seperti wayang orang, atau pertunjukkan hiburan lain. Penamaan Wirengan juga diambil dari profesi tersebut dalam Bahasa Jawa yakni "wireng" yang merujuk pada para penari atau wayang orang. 

Tamtaman, sesuai namanya, daerah ini berisi para prajurit pengawal raja. Ya kira-kira seperti Mako Paspampres lah kalau di Istana Negara. Barak militer keraton lainnya terdapat di Carangan yang berisi abdi dalem prajurit dari kesatuan seperti Carangdiguna, Carangkartika, dan Carangwijaya. 

Di sisi lain ada pula Kasatriyan yang kini juga terdapat sekolahan dengan nama serupa, Lumbung yang merupakan gudang logistik keraton, hingga rumah para pangeran atau Ndalem Pangeran yang mengelilingi di sekitar istana. 

Warga Baluwarti di masa lampau, setidaknya sampai dengan awal abad ke-20 masih memegang aturan hidup dan tatacara lokal setempat. Contohnya adalah tidak diperkenankan duduk di kursi sekalipun berada di rumahnya sendiri. Aturan lain juga mengikat cara berpakaian mereka saat berpergian keluar rumah hingga dilarang membunyikan gamelan. 

Kehidupan warga Baluwarti masih terdapat pemisahan golongan. Tentu priyayi akan berbeda perlakuan dengan kaum kawula alit. Kebudayaan dan kebiasaan hidup ini masih melekat di sejumlah lini kehidupan hingga hari ini. 

Baluwarti, meski tampak sunyi namun merekam setiap kejadian dengan rinci. Ini bukan sekedar pemukiman urban yang kebetulan dekat dengan istana raja, melainkan sebuah kesetiaan dan ketaatan pada regula hidup yang berlangsung turun temurun. 

Kalau dihubungkan dengan apapun yang terjadi di istana, seturut pengalaman saya berkawan dengan orang Baluwarti, umumnya mereka memilih untuk pasif dan tidak banyak bercerita. Seorang kawan lama yang malu disebutkan namanya pernah mengungkap bahwa sebagai kawula di sekitar keraton, tabu bagi mereka untuk ngrasani apa yang terjadi di dalam rumah orang lain (termasuk Raja). 

Meski tampak tenang, Baluwarti tetap menyimpan keindahannya tersendiri. Sekalipun sebagai warga Solo aseli yang gemar berkeliling kota sendiri, setiap langkah melewatinya selalu membawa nuansa magis tersendiri.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama