Cabuk Rambak: Perlente Walau Menu Kere

Makanan cabuk rambak. (Foto; Istimewa)

"Jika wanita sekaliber Gusti Nurul saja doyan, lantas mengapa first date masa kini perlu fancy food? Cabuk Rambak-lah!"

Menelusuri langkah di sekitar Stadion Manahan usai olahraga pagi, kadang mata mulai menggaruk isi lambung untuk segera mencicipi dagangan para bakul tak jauh dari lokasi. Sejumlah makanan dijajakan mulai jajanan pasar hingga lauk mancanegara tersedia rapi di sudut barat shelter Manahan. 

Entah mengapa, nafsu makan ingin sekali melahap makanan tradisional yang mulai jarang nampak atau bahkan asing di telinga anak muda Solo, Cabuk Rambak. Pincuk daun pisang berisikan ketupat yang diguyur dengan saus wijen kelapa khas ditemani dengan karak (krupuk nasi) segera tersaji dari tangan Mbok Rahmi. Sejak pagi, kira-kira sesudah subuh, Mbok Rahmi memasang bronjong hijaunya untuk menjual makanan khas Solo ini. 

"Bathi sithik asal ajeg wantun maju terus mas, rejekine wong cilik ora mung seko duit!," katanya lantang ketika saya mencoba menggelitik dengan pertanyaan jenaka. In this economy, cabuk rambak tidak sekejam namanya, makanan ini justru jadi sahabat kere hore full karbo yang cocok bagi para proletar dan kaum pekerja. 

Selembar uang Rp 10 ribu sudah cukup untuk memenuhi asupan kalori yang cukup besar dari cabuk rambak. Khusus bakulan Mbok Rahmi, teh gratis. Tentu sekalipun gratis, teh Mbok Rahmi tidak pernah mengecewakan, inilah ciri kekuatan lidah orang Solo yang ahli meracik teh. 

Setelah kenyang, roda berputar mengayuh sembari menggali makna lampau makanan tradisional ini. Cabuk Rambak berasal dari dua kata yakni “Cabuk” yang merujuk pada wijen sebagai bahan dasar pembuat saus dan “Rambak” yang merupakan krupuk dari bahan kulit sapi maupun kerbau. Namun karena semakin sulitnya mendapatkan bahan kulit sapi, komposisi cabuk rambak berubah dari yang semula menggunakan krupuk kulit sapi (rambak) menjadi krupuk nasi (karak).

Meski pada mulanya merupakan makanan olahan yang sangat sederhana dan dinikmati oleh masyarakat kelas bawah, siapa sangka makanan ini juga jadi favorit kaum ningrat.

Saya ingat tutur pak dosen, Bung Heri Priyatmoko, sejarawan sekaligus pendiri komunitas sejarah dan budaya Kota Surakarta, Solo Societeit. Ia menjelaskan, cabuk rambak sudah menjadi salah satu makanan ringan yang muncul pada masa kolonial.

“Sejak dulu cabuk rambak ini menjadi makanan ringan yang sederhana dan dimakan oleh kalangan masyarakat,” tegas akademisi itu. Pak dosen menambahkan pada mulanya rambak atau krupuk yang digunakan belum menjadi karak seperti isian cabuk rambak yang ada sekarang. 

Tak hanya jadi santapan masyarakat di luar tembok keraton, cabuk rambak ikut menjadi makanan kesukaan bangsawan. Dengan bangga dan tampak semangat, pak dosen menceritakan Gusti Nurul, putri dari Mangkunegara VII yang gemar menikmati cabuk rambak di sela-sela kesehariannya.

“Cabuk rambak ini makanan kegemaran Gusti Nurul. Kita tahu beliau adalah putri semata wayang Mangkunegara VII yang begitu cantik dan terkenal. Rupanya makanannya ya sederhana aja, tidak melulu harus masakan barat,” tegas Heri.

Bayangkan jika wanita pujaan para pembesar bangsa saja hanya perlu bahagia dengan cabuk rambak, tentu siapapun tidak akan insecure untuk first date dengan belio. Sayangnya wanita seperti Gusti Nurul populasinya mulai langka, bak politisi jujur di republik ini. 

Tentu saja sejarah panjang cabuk rambak terlalu sia-sia untuk dihilangkan. Penjual seperti Mbok Rahmi, bisa jadi adalah pelestari budaya, penjaga legasi makanan tradisional turun temurun. Jangan sampai resep cabuk rambak hilang hanya karena kalah pamor dengan takoyaki, taichan, dan sejenisnya. 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama