Kisah dari Emperan Kota Bengawan

Koridor Gatsu malam hari. (Foto: solopos.com)



Dulu saya pikir gelandangan hanya ada di film Spiderman, atau minimal kota besar sekelas Jakarta. Rupanya malam di kota bengawan tak beda.

Angin malam meniup dada begitu kencang, sembari roda berputar membawa raga menuju jalan kota. Malam itu cukup dingin, setidaknya bagi mereka yang tak beratap, yang setiap hari penuh ratap tanpa lupa untuk berharap. Sedikit usaha gotong royong telah terbungkus rapi beserta air putih sederhana. Sambil menyusuri malam yang sepi, dimana setiap nafas mulai merebahkan diri di atas ranjang pribadi, di sisi lain sebagian manusia pun hanya beristirahat di teras-teras sudut kota.

Ujung Jalan Slamet Riyadi telah terlewati. Bermula dari Stasiun Purwosari, kiri dan kanan sepasang mata tak henti mencari-cari. Barulah usai rel bengkong, hati tersipu malu melihat suatu ironi. Wajah kusut, kaos buluk, dan sebuah botol kecil berisi teh yang lewat sekian hari, terdekap erat di balik badan yang mulai kumuh. Jangan tanya soal bau, penciuman cukup waras waktu itu, namun empati menutup segalanya. 

Sapa terucap, seperti kebiasaan orang Jawa pada umumnya, kata “kulanuwun” menjadi lisan andalan pembuka pembicaraan. “Njih mas” balasnya. Kerut wajahnya menyiratkan harapan, meski kecemasan tak sepenuhnya tertutupi. Sebuah nasi bungkus sederhana dan air putih tersedia. Tangan-tangan keriput penuh perjuangan itu menyambut dengan bahagia. Senyuman tipis dan kata terimakasih yang tak mungkin luput dengan haru terbongkar dalam satu waktu.

Hari berganti, rupanya jam telah melewati waktu kemarin. Meski masih dini hari, sebagian besar dari mereka masih membuka matanya. Antara termenung bersama pikiran dunia, atau hati berucap doa. Insiden tadi, terus berulang sepanjang jalan tengah kota. Seperti tak percaya, kota ternyaman pun rupanya bukan milik semua orang. Ada sebuah kejadian yang cukup menggertak nurani. Ketika tukang becak yang terlelap itu terbangun dari mimpinya. 

Sebungkus pula diberikan padanya. Dengan sopan dan halus Ia menolak. “Sampun mas, kula sampun wonten, menika rencang kula kemawon”, katanya sembari menunjuk teman yang meringkuk sepi tanpa selimut di depan emperan toko roti. Siapa yang tak tersentuh? Bahkan dalam kondisi “susah pangan” sekalipun, rakus tak pernah terbesit di pikiran mereka. 

Hidup saja nomaden, bahkan bila hujan tiba tak jarang harus menahan ingin dan basah sekaligus, menginvasi daya tahan tubuh, kesehatan seperti suatu hal yang rawan. Bila pun sampai jatuh sakit, hanya doa dan keyakinan menjadi penawar. Sungguh, benar juga mungkin lagu karya Ismail Marzuki kala Ia menggambarkan bagaimana ibu pertiwi menangis.

Gema adzan subuh mengaung. Usai sudah sebagian kisah hidup terangkai bagai monumen dalam benak. Sepanjang jalan menuju pulang, tak habis kepala ini mengusik segala tanya. Begitu pula hati yang sepertinya terprovokasi malu, mengapa tidak ada syukur dalam diri. 

Sementara mereka yang tersisih dari hiruk pikuk kota, yang tidur tanpa selimut hangat, beralaskan bagor lusuh beratap langit-langit ruko yang kadang mulai rompal internitnya terus mendaraskan diri dalam syukur akan kehidupan dari Sang Hyang. Pagar rumah terbuka, dan air mata mengalir begitu saja seperti gemericik air gerimis di talang mengakhiri kisah malan jalan kota.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama