Jejak Prajurit Legiun di Madyotaman

Jalan Madyotaman adalah sisa lokasi nongki para ksatria legiun. (Foto: I.K Nino Sativara)


Madyotaman bisa jadi adalah 'spot nongki' kalcer para ksatria Legiun Mangkunegaran pada masanya.

Makan siang di warung gongso dekat Pasar Nongko membawa saya pada rasa ingin tahu sebuah kampung yang bernama Madyotaman. Letaknya tak jauh dari lokasi warung enak tersebut, namun plakat dan tanda-tanda identitasnya hanya tinggal sedikit di sekitar gang. 

"Badhe tindak pundi ta mas, kok mlampah?," tanya seorang warga sekitar yang melintas. Tak menunggu lama, saya segera bertanya pada pakdhe-pakdhe itu tentang masa lampau Madyotaman. Pak Tarto namanya, ia berujar menurut cerita dari leluhurnya, daerah yang kini masuk di Kelurahan Punggawan itu dulunya adalah salah satu taman milik Mangkunegaran. 

"Namine mawon Madya Taman mas, hambok menawi leres 'Taman Tengah'. Nanging bener pripun mboten retos kula," jelas dia sambil menyedot rokok non cukai. 

Saya belum puas. Sepulang dari daerah itu, saya mencoba mencari tahu bagaimana alkisah sejati dari wilayah Madyotaman. Seorang kawan pegiat sejarah memberi saya sebuah literatur dari Kemendikbud. Sebuah buku berjudul "Toponim Surakarta: Keragaman Budaya dalam Penamaan Ruang Kota". Salah seorang penuli buku itu nampak tidak asing bagi saya, Pak Heri Priyatmoko. Dosen Sanata Dharma itu memang moncer di Solo sebagai founder Solo Societeit, sebuah "pakempalan tiyang ageng" yang cukup intensif membahas sejarah sosio kultur di kota bengawan. 

"Ah akurat ini pasti!," demikian gumam saya. Buku itu sudah agak lama, terbitan 2010 hasil kerja sama sejumlah pihak yang diinisiasi oleh Kemendikbud masa Jero Wacik. Dalam buku itu Madyotaman dijelaskan cukup singkat. Namun sangat berbeda dengan yang diceritakan oleh Pak Tarto. 

Penamaan Madyotaman memang betul diambil dari dua kata yakni "Madyo" dan "Tamtaman". Seiring berjalannya waktu, penyebutan Tamtaman dipersingkat menjadi Taman. Madyo dalam bahasa Jawa berarti tengah, sedangkan tamtaman adalah golongan prajurit berpangkat rendah (Tamtama). Sehingga jika diterjemahkan secara keseluruhan Madyotaman berarti Prajurit Menengah. 

Temuan ini cukup unik bagi saya, bagaimana othak athik gathuk warga sekitar nyerempet sedikit ke arah sejarahnya. Ya, di Jawa hal semacam itu lumrah, beruntung saya tidak menelan mentah keterangan pakdhe tadi. 

Dulunya, Madyotaman dipakai sebagai tempat nongkrong para prajurit menengah Legiun Mangkunegaran. Jaraknya yang tidak sampai 1 kilometer dari gerbang barat Pura Mangkunegaran, menjadikan temuan historis ini semakin masuk akal. 

Legiun Mangkunegaran sendiri merupakan ksatria special forces milik Kadipaten Mangkunegaran. Berbeda dengan saudara tuanya Kasunanan yang mengambil sistem bregodo (brigade), Mangkunegaran justru mengadopsi sistem militer ala Prancis yakni Legiun (Legionaire). 

Sayang, di balik sejarah keren di Madyotaman, peninggalan lokasi "cakruk" prajurit menengah para ksatria Legiun kini seperti tak nampak. Jalan di kampung ini terlihat seperti kampung damai di tengah kota yang cukup tenang. Ada sekolah menengah di tengah-tengahnya, dan nama Madyotaman kini diabadikan menjadi nama jalan utama di tengah kampung tersebut. 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama