
Para "diplomat" dari lintas latar belakang di wedangan. (Istimewa)
Wedangan tak melulu soal makanan, ia bisa menjelma jadi meja diplomasi dan forum negarawan yang egaliter.
Langit agak mendung
siang itu, seperti mengintai bersiap membasahi bumi. Masih duduk di depan meja
sederhana, sembari menyusun rancangan kegiatan ditemani sebatang rokok dan kopi
hangat. Awan gelap terus menyelubung sampai sore hari tiba. Benar saja, tidak
lama kemudian gemericik air talang berbunyi. Entah apa yang saya pikirkan waktu
itu, yang jelas perut mulai memprovokasi pikiran agar segera pergi mencari
asupan.
Motor tua
peninggalan kakek masih setia menemani perjalanan pulang. Meski bersama rintik
hujan yang tak kunjung terang, akhirnya mampir sebentar dulu di dekat Monumen
Pers. Ya, wedangan. Suguhan sederhana khas kota bengawan, dengan gerobak kayu
yang di tengahnya bagaikan pameran jajanan dan makanan. Tidak lupa tungku
bakaran di sebelahnya.
Kalau datang,
jangan lupa ambil beberapa tempe goreng, tahu bacem, sundukan usus, tak lupa juga dengan sate apus yang konon hanya ada di wilayah Solo dan sekitarnya. Sate apus ini unik, karena terlihat seperti
daging padahal berbahan dasar gandum yang ditusuk lalu dibakar dengan balutan
kecap. Bila sudah terkumpul di piring, segera minta dibakar atau diangetin biar makin sedap.
Tidak lupa hidangan
main course-nya, yaitu sego bandeng atau juga disebut nasi
kucing. Bungkusan kecil seukuran satu kepal tangan, berisi suwiran bandeng dan juga sedikit sambal. Nasi kucing ini makin yummy kalau dimakan bersamaan dengan lauk yang tadi dibakar.
Kalau tiba di Solo,
jangan heran bila begitu banyak wedangan di kanan kiri jalan. Murah, mudah,
sederhana adalah tiga kata yang pas untuk menggambarkan wedangan. Oh iya hampir
lupa, coba juga coba wedang JKJ,
singkatan dari Jahe Kencur Jeruk. Wah ini minuman yang bisa bikin badan seger.
Apalagi kalau diminum waktu dingin-dingin hujan, pasti gerrrr banget dan bikin badan terasa hangat. Cocok banget buat
jomblo yang butuh kehangatan, cihuyy.
Mungkin sebagian
besar orang lebih familier dengan sebutan angkringan. Tapi, ya begitulah warga
Solo menyebutnya. Perbedaan penyebutan ini wajar saja, lha wong asal muasalnya dari Klaten. Orang lama memanggilnya “HIK”,
singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung. Pedagang HIK dari Klaten banyak
merantau ke kota sebelah dan kemudian menetap untuk berjualan. Yang di barat ke
Jogja, yang di timur ya ke Solo.
Jogja akrab
menyebutnya “angkringan”. Tempat
dimana pengunjung bisa makan dan ngobrol
asyik sambil methangkring di kursi
panjangnya. Itulah mengapa, Jogja menyebutnya angkringan. Kalau di Solo, karena
memang yang disuguhkan berbagai macam minuman hangat maka menyebutnya “wedangan”. Berasal dari kata wedang yang artinya air atau minuman.
Mau wedangan, angkringan, atau HIK sama saja kok, jadi nggak usah bingung ya gaes. Itu cuman masalah peyebutan, hehe.
Bukan sekedar tempat
makan, orang bisa berjam-jam tenguk atau
nongkrong di wedangan. Tak jarang, banyak orang datang ke wedangan hanya untuk
minum jahe anget sambil merokok.
Sisanya, paling ya ngobrol ngalor ngidul
bareng penjual atau pengunjung yang lain. Interaksi sosial yang terjadi di wedangan,
menunjukkan pergaulan tanpa perbedaan yang ada dalam kebiasaan hidup orang
Jawa. Mulai dari tukang becak, loper koran, mas-mas ojol, sampai pegawai
balaikota bahkan pejabat pemerintahan semua bisa bercengkrama tanpa membedakan
latar belakang.
Mulai dari
basa-basi perkenalan, bicara isu sosial, politik, hingga lakon wayang dan
cerita kethoprak Balekambang yang tayang mingguan. Wedangan sudah seperti media
informasi ter-update bagi semua kalangan.
Entah mengapa, terkadang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa tertawa
terbahak-bahak bersama di wedangan.
Rintik hujan masih
setia menemani. Padahal waktu sudah hampir pukul 20.00. Segera saya merogoh
saku belakang celana, mengambil dompet kesayangan. “Mpun mas, total pat belas ewu
mawon”, ucap Mas Narso, pemilik wedangan
sederhana langganan saya itu. Nggak
usah bingung, harga makanan di Solo murah-murah kok. Apalagi kalau di wedangan, saya biasanya habis Rp15.000. Itu
saja sudah tergolong mahal, karena ya memang perut seneng icip-icip jajanan
sih. Maklum, badan agak subur, jadi ya perlu sedikit tambahan logistik hehehe.
Kendaraan tua sudah
menyala. Roda berputar melewati Flyover
Manahan dan menuju ke gubuk tercinta. Sepanjang perjalanan kadang masih
terngiang betapa gayeng-nya obrolan
tadi bersama para pengunjung wedangan. Rupanya hujan perlahan undur diri, cukup
membasahi bumi hari ini. Duh kenyang
banget, yuk kapan kalian maen ke Solo?