
Penampakan sate berbohong alias Sate Apus. (Istimewa)
Kalau Anda baru saja tiba di kota berseri,
jangan kaget kena prank dari makanan yang satu ini.
Hujan belum usai
sejak sore di kota bengawan, ketika perut menyambut lapar saat duduk bersama
seorang kawan dari ibukota. Segera, kami melipir
di bawah rintik air hujan menuju wedangan dekat kantor yang jaraknya hanya
perlu sedikit langkah itu. Jangan bingung kalau ke Solo, kami lebih familiar
dengan sebutan wedangan daripada angkringan, meski sajiannya juga tidak banyak
yang berbeda.
Tenda terpal
sederhana dan gerobak yang di tengahnya berisikan makanan mulai dari nasi
bandeng, oseng, kerupuk, tempe, tahu, dan makanan lain tersaji bagai mengajak
mulut untuk meraihnya satu persatu. Kawan saya ikut mengambil beberapa makanan,
hingga terkejut ketika melahap sate berwarna coklat agak hitam yang ia kira
daging itu.
“Ini apa bro? Sate daging kok rasanya nggak kaya daging”, tanya kawan saya.
“Selamat, kamu kena prank bung!”, balas
saya sambil terkekeh.
Ada satu makanan
yang unik di wedangan Solo yang hampir tidak pernah absen ikut ngerumpul di gerobak, yaitu sate apus.
Sate apus, bila dilihat dari segi bahasa khususnya bahasa Jawa, kata “apus” sendiri berarti bohong atau tipu. Ya,
sate apus memang berbentuk dan bertekstur persis seperti daging bila dilihat
sekilas. Tapi sate apus sebenarnya sama sekali tidak mengandung daging, kok
bisa?.
Sate apus sejatinya
adalah makanan berbahan dasar tepung terigu berprotein tinggi. Di olah dengan
tambahan bumbu-bumbu seperti ketumbar, bawang putih, garam, kecap, lada, dan
kaldu jamur. Bahan dasar dan bumbu kemudian dicampur menjadi satu lalu direbus
selama kurang lebih 15 menit. Setelah adonan matang, baru ditusuk dengan tusuk
sate lalu baru kemudian di bakar dengan kecap. Setelah dibakar hingga matang
dan muncul aroma khas, baru sate apus bisa dihidangkan.
Sate apus juga
sering disebut sate gluten karena memang berbahan dasar nabati dan tidak
mengandung unsur hewani. Ini menjadi alasan sate apus cocok sekali untuk Anda
yang vegetarian. Saya sendiri memang bukan seorang vegetarian, tapi menyantap
sate apus sembari melahap nasi bandeng adalah kenikmatan tiada tara. Apalagi diakhiri
dengan meminum wedang JKJ alias jahe kencur jeruk dengan vibes dingin-dingin hujan.
“Om, mbok sate apus e stok e ditambah. Mosok aku teko
mesti kari sak ler rong ler!”, keluh saya pada Mas
Narso, penjaga wedangan favorit dekat Monumen Pers itu.
“Teko mu mesti telat ogh, sate apus ki mesthi
sold out. Nek ora paling yo full booked”, jawabnya sambil bercanda.
Mas Narso sudah
cukup lama membuka wedangan dekat Monumen Pers itu. Seingat saya sekitar 2016
Ia masih berjualan di depan Kwarcab Pramuka Solo sebelum kemudian pindah pada
2017 di sebelah timur Balai Persis. Posisinya memang sangat strategis, dekat
dengan Monumen pers, Balai Persis, Rumah Dinas Wakil Walikota, Taman Ngesus,
dan Kwarcab Pramuka Solo. Pantas saja, setiap kali saya ingin makan sate apus
disana harus beradu cepat dengan pegawai-pegawai dari beberapa kantor dekat
wedangan Mas Narso. Meski buka sejak siang jam 14.00, biasanya sebelum matahari
terbenam sate apusnya sudah sold out.
Memang sate apus
ini jadi primadona dan incaran orang-orang kalau makan di wedangan. Tekstur dan
penampilannya yang hampir mirip seperti sate daging terkadang mengaburkan mata
penikmatnya kalau itu hanya olahan tepung terigu. Terlebih, penjaga wedangan di
Solo selalu melontarkan pertanyaan template
pada setiap pembelinya dengan kalimat “dibakar
melih mboten?”. Wah, kalau makan sate apus pas lagi anget-angetnya itu numero uno sekali apalagi ditambah kecap
manis. Yang bikin nagih selain rasanya tidak lain dan tidak bukan adalah karena
harganya yang merakyat. Cukup Rp 2.000,- rupiah saja per tusuk, itu pun tidak
akan dikenai charge tambahan kalau
minta dibakar plus kecap.
Perut yang tadinya keroncongan, kini sudah kenyang cenderung begah. Nasi bandeng dua bungkus, sate apus 3 tusuk, dan sebuah tempe hanya perlu membayar Rp 10.500,- itupun dapet kortingan Rp 500 dari Mas Narso yang memang sudah lama saya kenal. Meski sebenarnya itu alasan klasik penjual, karena nggak punya receh aja. Sekali lagi kawan saya terkejut, karena murahnya harga makanan di wedangan. Ya maklum, memang segitu harga makanan di Solo ini.
Kata solopos.com, menurut survei oleh IAP (Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia) pada 2018 lalu, Kota Solo menjadi yang pertama sebagai kota ternyaman dengan indeks 66,9 persen. Jadi gimana, udah siap ke prank? Ayo dolan neng Solo.