Senapan Jhonson Andalan Pangat

Tentara Pelajar Solo di depan Pasar Gede sekitar 1948-1949. (Istimewa)


"Kalau Pangat masih ada, harusnya patung Monumen Sidokerto ini dia," ujar sang veteran.

Proklamasi berkumandang 3 tahun berjalan, namun kebebasan tak dirasakan benar oleh rakyat Indonesia. Belanda yang berulang kali merengek, gagal move on dari negeri Hindia Timur yang kini telah menjadi sebuah republik. Negara yang baru saja bebas dari jajahan Jerman itu, secara kurang ajar mengadakan aksi polisionil di negeri kita. Apa yang kelak lebih dikenal dengan Agresi Militer Belanda.

Solo yang masih bergejolak di dalam kota akibat kacaunya kondisi politik waktu itu. Diperkeruh pembunuhan dan penculikan di Kepatihan, gegeran di antara blok swapraja dan golongan anti swapraja. Terlepas dari politik yang serba kotor, Belanda telah tiba lagi di tanah Jawa dan siap melakukan agresi. Pangat, tidak ada yang istimewa darinya. Pelajar biasa yang umum terlihat di bangku sekolahan sembari menenggak timba ilmu. Namun siapa sangka, dia adalah komandan seksi TP (Tentara Pelajar) yang dikenal pemberani. Sebuah kisah terlukis indah, meski kenyataannya tak seindah kisahnya. Malam yang pahit di akhir 1948 ketika seharian Solo telah diduduki oleh Belanda, Pangat tak bisa terima kotanya “mengalah” begitu saja. Atas petunjuk Mayor Achmadi, komandan Sub Wehr-Kreise 106 Arjuna yang melindungi daerah Solo dan sekitarnya, Pangat bergegas mencari sasaran. Segera dari sekitar kampung Beton, Pangat dan regunya bergerak.

Pangat menyandang senapan Jhonson. M1941 Jhonson, senapan semi otomatis bikinan sekutu itu cukup ampuh buat menandingi Garand. Melvin Jhonson, seorang pengacara yang juga berpangkat kapten cadangan Korps Marinir AS. Ialah yang menciptakan M1941 Jhonson. Senapan yang di klaim lebih baik daripada M1 Garand, meski populasinya di tubuh militer AS tidak sepopuler M1 Garand. Kaliber 30-06 Springfield adalah asupan yang musti ada sebagai amunisinya.

Tibalah Pangat di Kepatihan. Tidak jauh dari sana terdapat menara air yang dijaga oleh beberapa serdadu Belanda. Tiap-tiap orang mengambil posisi dan siap memuntahkan pelor panas ke alamatnya masing-masing. “tharrrr”, suara senapan Jhonson milik Pangat berbunyi keras. Diikuti tembakan susulan dari kelompoknya. Serdadu Belanda pun koyak dan jatuh tersungkur. Segera setelah memastikan peluru tepat sasaran, para anggota TP itu lari bersembunyi.

 

Sumber referensi :

Diasmadi S.DSG. (2001). Tentara Pelajar Solo, Masa Aksi Militer Belanda II. Surakarta: Cipta Karya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama